Menu

Web Programming

"Tutorial dan artikel tentang pemrograman web"

Blog

"Tutorial dan artikel tentang blogging"

Elektronika

"Tutorial dan artikel tentang kelistrikan"

Pemrograman

"Tutorial dan artikel tentang pemrograman komputer"

Lain-lain

"artikel lainnya...."

Jumat, 26 Februari 2016

Blog (Definisi dan Manfaat dalam Pembelajaran)

Definisi Blog


Blog berasal dari kata web log yang secara sederhana berarti jurnal online, Secara alamiah, blog adalah sebuah website yang berisi blog post, blog page, blog comment, dan RSS feed (Prakoso, 2009, hlm.16).

Blog post, yaitu kumpulan artikel atau tulisan yang diterbitkan berdasarkan kronologi waktu, Blog post sering disingkat menjadi post, Blog post ini adalah isi utama sebuah blog dan disebut blog content. Blog page, yaitu halaman statis yang tidak berdasarkan urutan waktu. Blog comment, yaitu komentar Yaitu komentar yang ditulis oleh pembaca blog. RSS feed. RSS atau Rich Site Summary adalah ringkasan blog content yang dibagi ke website lain.

Manfaat Blog dalam Pembelajaran


Beberapa manfaat blog adalah meningkatkan pengetahuan, berbagi sumber diantara rekan sejawat, bekerjasama dengan pengajar di luar negeri, kesempatan mempublikasikan informasi secara langsung. Mengatur komunikasi secara teratur, berpartisipasi dalam forum-forum lokal maupun internasional (Kristiyanti, 2011, hlm.41).

Sedangkan beberapa manfaat penggunaan blog dalam pembelajaran yaitu (Kustijono, 2012, hlm.16) :
  • Blog membolehkan pelajar yang mempunyai kemahiran web menggunakan sumber informasi kegemaran mereka (melalui internet) secara sah dan sesuai serta mengaplikasikan kemahiran mereka dalam program tersebut.
  • Dapat meningkatkan motivasi siswa agar aktif dalam proses pembelajaran karena menulis blog harus memikat dan menarik.
  • Dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi siswa yang kurang mahir internet melalui pembelajaran teman sebaya.
  • Dapat memberi siswa informasi terkini mengenai bahan pembelajaran mereka.
  • Dapat mengembangkan pemikiran kritis (dan juga cara-cara yang sesuai untuk mengutarakan pemikiran tersebut dalam bentuk tulisan) melalui penggunaan ruang komentar dan bentuk balikan yang lain.
  • Dapat menjadi portal kreatif dan inisiatif sendiri, karena gagasan yang bagus bukan saja diberi ganjaran melalui nilai yang tinggi, bahkan mendapat respon secara langsung dari pengunjung blog.
  • Dapat membuat program yang direncanakan lebih mudah dilihat di internet dan memberikan gambaran positif yang jelas, dan dapat menghasilkan komitmen yang tinggi dari siswa terhadap program tersebut dan perasaan banga terhadap hasil kerja mereka.
  • Dapat menjadikan pembelajaran lebih adil dan setara, bukan secara hierarki, dan guru bertindak sebagai pendamping, bukan satu-satunya sumber informasi dan tafsiran. 

Referensi :

  • Kristiyanti, M. (2011). Blog Sebagai Alternatif Media Pembelajaran. Majalah Ilmiah Informatika, 33-45.
  • Kustijono, R. (2012). Pembelajaran Berbasis Inquiri Melalui Pengembangan Blog Pembelajaran Fisika Dalam Mata Kuliah Multimedia. Jurnal Penelitian Fisika dan Aplikasinya (JPFA), 10-22.
  • Prakoso, A. (2009). Mantra Uang dari Wordpress Blog. Jakarta: Grasindo.


Senin, 22 Februari 2016

E-Learning (Definisi, Karakteristik, Kelebihan & Kekurangan)


Definisi E-Learning


E-Learning merupakan salah satu metode belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet, atau media jaringan komputer lain (Efendi, 2008, hlm.133).

E-Learning merupakan Pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran (Allen, 2013, hlm.27).

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa e-learning adalah proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi sebagai media belajar.

Karakteristik E-Learning


Karakteristik E-Learning adalah sebagai berikut (Efendi, 2008, hlm.135)
  • Memanfaatkan jasa teknologi elektronik.
  • Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan jaringan komputer).
  • Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri (self learning materials).
  • Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

Kelebihan dan Kekurangan E-Learning


Sebagai sebuah metode belajar tentu saja e-learning juga memiliki kelebihan dan kekurangan dibandingkan metode belajar yang lain. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan e-learning :

1. Kelebihan E-Learning


E-Learning memiliki banyak kelebihan diantaranya, yaitu lebih mudah diserap, efektif dalam biaya, lebih ringkas, tersedia 24 jam perhari dan 7 hari/minggu (Tjokro, 2009, hlm.187).

Lebih mudah diserap, artinya menggunakan fasilitas multimedia berupa gambar, teks, animasi, suara,video. 

Jauh lebih efektif dalam biaya, artinya tidak perlu insruktur, tidak perlu minimum audiensi, bias dimana saja, bias kapan saja, murah untuk diperbanyak. 

Jauh lebih ringkas, artinya tidak banyak formalitas kelas, langsung pada pokok bahasan, mata pelajaran sesuai kebutuhan. 

Tersedia 24 jam/hari dan 7 hari/minggu, artinya penguasaan materi tergantung pada semangat dan daya serap siswa, bias dimonitor, bias diuji dengan e-test.

2) Kekurangan E-Learning


Berikut ini adalah kekurangan yang biasanya terdapat pada sistem pembelajaran e-learning  (Efendi, 2008, hlm.140):
  • Kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar atau bahkan anatar pelajar itu sendiri.
  • Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek social dan sebaliknya membuat tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
  • Proses belajar mengajar cenderung kea rah pelatihan daripada pendidikan.
  • Berubahnya peran pengajar dari semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (Information, Communication, and Technology).
  • Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer).
  • Kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang menguasai internet.
  • Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
  • Akses pada komputer yang memadai dapat menjadi masalah tersendiri bagi peserta didik.
  • Peserta didik bias frustasi jika mereka tidak dapat mengakses grafik, gambar, dan video karena peralatan yang tidak memadai.
  • Tersedianya infrastrruktur yang bisa dipenuhi.
  • Informasi dapat bervariasi dalam kualitas dan akurasi sehingga panduan dan fitur pertanyaan diperlukan.
  • Peserta didik dapat merasa terisolasi.

Referensi

  • Allen, M. (2013). Michael's Guide to E-Learning. Canada: John Wiley & Sons.
  • Efendi, N. F. (2008). Pendidikan dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
  • Tjokro, S. L. (2009). Presentasi yang Mencekam. Jakarta: Elex Media Komputindo.


Minggu, 14 Februari 2016

Media Pembelajaran (Definisi, Kriteria, Fungsi dan Manfaat)

Definisi Media Pembelajaran

Proses mengajar adalah proses komunikasi, yang melibatkan penyampaian pesan antara pemberi pesan dan penerima pesan, di dalam komunikasi terkadang ada hambatan yang membuat pesan tidak dapat disalurkan dengan baik. Untuk meminimalkan kegagalan atau hambatan komunikasi media diperlukan sebagai alat bantu komunikasi.

Media adalah alat komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang atau dengar termasuk teknologi perangkat kerasnya (Susilana & Riyana, 2009, hlm.6). Media pembelajaran adalah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran merupakan sebuah proses komunikasi antara peserta didik, pendidik, dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana pencapai pesan atau media.

Kriteria Media Pembelajaran

Kriteria pemilihan media bersumber dari konsep bahwa media pembelajaran merupakan bagian dari sistem instruksional secara keseluruhan. Terdapat beberapa kriteria yang penting untuk diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran yang baik, diantaranya sesuai dengan tujuan, praktis, kemudahan navigasi, pengelompokkan sasaran, dan mutu teknis (Arsyad, 2013, hlm. 74).

Media pembelajaran harus sesuai dengan tujuan, dimana mengacu setidaknya pada dua dari tiga ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal ini bertujuan agar media pembelajaran sesuai dengan arahan dan tidak melenceng dari tujuan. Media pembelajaran haruslah praktis, luwes dan bertahan. Media pembelajaran yang dipilih tidak harus mahal dan selalu berbasis teknologi. Pemanfaatan susuatu yang sederhana namun tepat guna akan lebih efektif dibandingkan dengan media pembelajaran yang mahal tetapi rumit. Apapun media yang dipilih, haruslah memiliki kemudahan dalam navigasi, kemudahan penggunaan media pembelajaran ini nantinya dapat memudahkan siswa terampil dalam menggunakan media pembelajaran yang dipilih. Siswa memiliki kemampuan belajar yang heterogen, antara kelompok siswa satu dengan yang lain tentu tidak akan sama, untuk itu pemilihan media pembelajaran tidak dapat disama ratakan, oleh karena itu media pembelajaran yang dipilih haruslah dikelompokkan sesuai sasaran. Pemilihan media yang akan digunakan harus memenuhi persyaratan mutu teknis tertentu, guru tidak bisa asal begitu saja dalam menentukan media pembelajaran meskipun sudah memenuhi kriteria sebelumnya, tiap produk yang dijadikan media pembelajaran tentu memiliki standar tertentu agar produk tersebut layak digunakan.

Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran

Fungsi dari media pembelajaran adalah: Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis; Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan panca indera; Menimbulkan semangat belajar, interaksi langsung antara peserta didik dan sumber belajar; Memungkinkan peserta belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori, serta kinestetiknya; Memberi stimulus yang sama, membandingkan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama (Simamora, 2008, hlm.65).

Selain itu, manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, dapat membuat pembelajaran lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar, bahan pembelajaran akan jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan, metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan dan lain-lain (Sudjana & Rivai, 1992, hlm. 2). 

Karakteristik dari suatu media pembelajaran harus selalu diperhatikan oleh para pendidik, hal ini bertujuan agar pemanfaatan media dalam pembelajaran dapat dimaksimalkan, sehingga peserta didik mampu memahami maksud pelajaran dari media yang digunakan.

Referensi:
  • Arsyad, A. (2013). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press.
  • Simamora, R. H. (2008). Buku Ajar Pendidikan Dalam Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  • Sudjana, N., & Rivai, A. (1992). Media Pengajaran. Bandung: CV. Sinar Baru.
  • Susilana, R., & Riyana, C. (2009). Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, Penilaian. Bandung: CV Wacana Prima.


Jumat, 12 Februari 2016

Penilaian Portofolio (Definisi, Karakteristik, Kelebihan dan Kekurangan)


Definisi Penilaian Portofolio

Penilaian adalah suatu proses sistematik untuk mengambil keputusan dengan menggunakan data atau informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran, baik dengan tes maupun non tes (Wahyudiono, 2012, hlm.62).

Portofolio sebagai kumpulan pekerjaan siswa yang menunjukan usaha, perkembangan dan kecakapan mereka dalam satu bidang atau lebih. Kumpulan ini harus mencakup partisipasi siswa dalam seleksi isi, kriteria isi, kriteria seleksi, kriteria penilaian, dan bukti refleksi diri.

Jadi penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada rentang waktu tertentu untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. Berdasarkan perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan dan dapat digunakan sebagai balikan untuk membelajarakan mereka kembali.

Karakteristik Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio memiliki beberapa karakteristik, yaitu: Merupakan hasil karya siswa yang berisi kemajuan dan penyelesaian tugas-tugas secara terus menerus (continue) dalam usaha pencapaian kompetensi pembelajaran; Mengukur setiap prestasi siswa secara individual dan menyadari perbedaan diantara siswa; Merupakan suatu pendekatan kerjasama; Mempunyai tujuan untuk menilai diri sendiri; Memperbaiki dan mengupayakan prestasi; Adanya keterkaitan antara penilaian dan pembelajaran. (Fajar, 2009, hlm.91)

Berdasarkan dengan karakteristik penilaian portofolio yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa penilaian portofolio memiliki karakteristik, seperti: Memberikan siswa kesempatan menilai dirinya sendiri; adanya berkas hasil kerja siswa; Penilaian dilakukan terus menerus sesuai rentang waktu yang diberikan; Sebagai alat komunikasi antara guru, siswa dan pihak terkait.

Kelebihan dan Kekurangan Penilaian Portofolio

Sebagai salah satu bentuk dari sebuah penilaian/asesmen, penilaian portofolio mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan-kelebihan dari penilaian portofolio diantaranya:  Memungkinkan pendidik mengakses kemampuan peserta didik untuk membuat, menulis, menghasilkan berbagai tipe tugas akademik; Memungkinkan pendidik menilai keterampilan/kecakapan peserta didik; Mendorong kolaborasi (komunikasi dan hubungan) antara peserta didik dan pendidik; Memungkinkan pendidik mengintervensi proses dan menentukan  di mana pendidik perlu membantu. Sedangkan kekurangan dalam penilaian portofolio adalah sebagai berikut: Diperlukannya waktu yang relatif panjang dan segera; Pendidik harus tekun, sabar, dan terampil; Tidak ada kriteria yang standar (Rustaman, 2010, hlm.4).

Referensi:
  • Fajar, A. (2009). Portofolio Dalam Pembelajaran IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Rustaman, N. Y. (2010). Penilaian Portofolio. FPMIPA dan PPS Universitas Pendidikan Indonesia, 4.
  • Wahyudiono, B. (2012). Ranking 1st Bukan Segalanya. Jakarta: Raih Asa Sukses.


Rabu, 10 Februari 2016

Portofolio (Definisi dan Manfaat)


Definisi Portofolio


Sejumlah  pakar  pendidikan  mengemukakan  rumusan  yang  berlainan  satu  sama  lain. Istilah portofolio  telah banyak didefinisikan oleh para pakar sebagai berikut: Popham,  menyatakan  bahwa portofolio  adalah  sekumpulan  sistematik  tentang  pekerjaan  seseorang.  Dalam  pendidikan, portofolio  mengacu  pada kumpulan  sistematik  mengenai  pekerjaan  peserta  didik.  Sedangkan Genesee  dan  Upshur berpendapat  bahwa  portofolio  adalah sekumpulan pekerjaan peserta didik yang dapat menunjukkan kepada mereka  (juga  bagi  yang  lain)  atas  usaha,  kemajuan,  dan pencapaian mereka  dalam  bidang  studi  tertentu.  Epstein menyatakan  bahwa portofolio,  dalam konteks  kelas  adalah  kumpulan  koleksi  pekerjaan peserta  didik  yang  menunjukkan  penguasaan pengetahuan, keterampilan,  dan  sikap  peserta  didik.  Dikemukakan  oleh  mereka bahwa portofolio dapat berupa file folder, kotak atau wadah. (Suwandi, 2010, hlm.92)

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat dinyatakan bahwa portofolio adalah kumpulan  hasil karya, pekerjaan atau tugas peserta didik. Karya­karya yang disusun berdasarkan urutan kategori kegiatan peserta  didik  itu  dipilih  dan  dinilai  sehingga  dapat  menggambarkan perkembangan kemampuan atau kompetensi peserta didik.

Portofolio  yang  bertujuan  sebagai  alat  penilaian  hasil  belajar biasanya  berbentuk  sekumpulan hasil  karya  tugas  belajar  yang  telah dilaksanakan  oleh  peserta  didik  sepanjang  kurun  waktu tertentu. Sejumlah  hasil  karya  tersebut  satu  sama  lain  merupakan  tugas  yang saling berhubungan sehingga dapat membentuk karya yang utuh atau tidak.

Manfaat Portofolio

Portofolio memiliki beberapa keuntungan, antara lain: kemajuan belajar siswa dapat terlihat jelas, penekanan pada hasil pekerjaan terbaik siswa memberikan pengaruh positif dalam belajar, membandingkan pekerjaan sekarang dengan yang lalu memberikan motivasi yang lebih besar dari pada membandingkan dengan milik orang lain, keterampilan penilaian sendiri dikembangkan mengarah pada seleksi contoh pekerjaan dan menentukan pilihan terbaik, memberikan kesempatan siswa bekerja sesuai dengan perbedaan individu (misalnya siswa menulis sesuai dengan tingkat level mereka tetapi sama-sama menuju tujuan umum), dapat menjadi alat komunikasi yang jelas tentang kemajuan belajar siswa bagi siswa itu sendiri, orang tua, dan lainnya (Gronlund, 1998, hlm. 158).

Adapun keuntungan penggunaan portofolio secara khusus antara lain, memberikan bukti pekerjaan atau perbuatan berdasarkan pengetahuan yang sesungguhnya telah diperoleh, penilaian catatan atau memberikan gambaran tentang program pelajaran yang perlu ditekankan, catatan kemajuan siswa dalam jangka waktu lama mencerminkan pembelajaran yang cukup lama (Stenmark, 1991, hlm.63).


Referensi:
  • Gronlund, N. E. (1998). Assesment of Student Achievment Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon.
  • Stenmark, J. K. (1991). Math Portofolios: A New Form of Assessment. Teaching K-8, 62-68.
  • Suwandi, S. (2010). Model Asesmen Dalam Pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka.

Sabtu, 06 Februari 2016

Penilaian (Definisi, Prinsip dan Tujuan)

Definisi Penilaian

Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik (Saputra, Salikun, & Nugroho, 2014, hlm.31).
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai informasi tentang siswa dan ruang kelas untuk tujuan membuat keputusan instruksional (Sapa’at, 2012. hlm.221).
Dengan dilakukannya penilaian di dalam kelas dapat menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (berupa kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka).
Proses pengumpulan dan pengolahan informasi tersebut dilakukan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Proses penilaian tersebut mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/ madrasah. (Permendikbud No.66 Tahun 2013).

Prinsip Penilaian

Prinsip-prinsip dasar penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah diantaranya adalah objektif, terpadu, ekonomis, transparan, akuntabel, dan edukatif (Saputra, Salikun, & Nugroho, 2014, hlm.33).
Prinsip objektif menunjukkan penilaian didasarkan pada standar dan tidak dipengaruhi oleh faktor subjektivitas penilai. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan. Ekonomis, memiliki makna penilaian haruslah efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, pelaporannya. Transparan, menunjukkan bahwa prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak. Akuntabel, berarti penilaian haruslah dapat dipertanggung jawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya. edukatif, dimaksudkan untuk mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.

Tujuan Penilaian

Tujuan penilaian di kelas oleh guru hendaknya diarahkan pada 4 tujuan yaitu penelusuran (keeping track), pengecekan (checking up), pencarian (finding out), dan penyimpulan (summing up) (Chittenden, 1991, hlm.29).
Penelusuran (Keeping track), yaitu untuk menelusuri agar proses pembelajaran anak didik tetap sesuai dengan rencana. Guru mengumpulkan informasi sepanjang semester dan tahun pelajaran melalui berbagai bentuk penilaian kelas agar memperoleh gambaran tentang pencapaian kompetensi oleh siswa.
Pengecekan (Checking up), yaitu untuk mengecek adakah kelemahan-kelemahan yang dialami anak didik dalam proses pembelajaran. Melalui penilaian kelas, baik yang bersifat formal maupun informal guru melakukan pengecekan kemampuan (kompetensi) apa yang siswa telah kuasai dan apa yang belum dikuasai.
Pencarian (Finding-out), yaitu untuk mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelemahan dan kesalahan dalam proses pembelajaran. Guru harus selalu menganalisis dan merefleksikan hasil penilaian kelas dan mencari hal-hal yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan secara efektif.
Penyimpulan (Summing-up), yaitu untuk menyimpulkan apakah anak didik telah menguasai seluruh kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum atau belum. Penyimpulan sangat penting dilakukan guru, khususnya pada saat guru diminta melaporkan hasil kemajuan belajar anak kepada orang tua, sekolah, atau pihak lain seperti di akhir semester atau akhir tahun ajaran baik dalam bentuk rapor siswa atau bentuk lainnya.

Daftar Pustaka

  • Chittenden, E. (1991). Authentic assessment, evaluation, and documentation of student performance. Expanding Student Assessment, 22-31.
  • Sapa'at, A. (2012). Stop Menjadi Guru! Jakarta: Tangga Pustaka.
  • Saputra, L. S., Salikun, & Nugroho, W. (2014). Buku Pegangan Guru PKN Kelas VIII SMP/MTS: Buku Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html